Rabu, 19 Mei 2010

OMI, MY LOVELY PET


Pagi itu mataku terbuka, terbangun dari tidur malamku yang lelap. Tak terasa sedikit kantuk yang biasa menghinggapiku saat aq bangun tidur. Jam menunjukkan pukul 6 pagi, mataku terbelalak siaga. Pikiranku melayang entah kemana, seperti berusaha mencari ingatan yang tertinggal. Jarang aku tertidur pulas seperti malam itu, tidak selain aku mengkonsumsi obat yang membuatku taksadarkan diri. Tak heran aku begitu lelah setelah hari senin yang aku alami terasa begitu berat bagiku.
Senin pagi aku dan pacarku melarikan anjing peliharaanku menuju rumah sakit hewan. Rasa panik bercampur bingung karena penyakit yang diderita Omi, anjing peliharaanku semakin parah. Setelah mendaftar di rumah sakit yang aku tuju, Omi langsung dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat. Sebelumnya ia tersedak tulang, hal itu membuatnya sesak nafas dan kuputuskan untuk membawanya ke rumah sakit setelah hari ke 3. Dokter menyarankan untuk roentgen setelah mencoba mencari tulang itu secara manual. Tak lama setelah roentgen, Omi terjatuh saat mencoba menegakkan badan mungilnya yang lesu. Omi kembali dibawa ke ruang IGD untuk dipasangi infuse dan oxygen. Dia seolah kehabisan nafas. Taktahan ku memendam air mata melihat mulutnya yang “mangap-mangap” berusaha mencari nafas. Dia bisa sedikit tenang setelah udara dingin oxygen merasuki paru-parunya. Dokter menyarankan untuk melakukan operasi kecil. Akupun langsung menyanggupinya dengan segala resiko. Aku sudah tidak tahan melihatnya menderita. Saat itu juga, Omi langsung di bawa ke ruang operasi.
Tubuhku serasa melayang, apa yang aku lakukan Tuhan? Kenapa aku baru membawanya ke rumah sakit sekarang? Memang sehari setelah ia tersedak, aku sempat membawanya ke dokter hewan dan mendapat resep obat, tetapi sepertinya itu tidak membuat Omi lebih baik. Aku sangat merasa bersalah, merasa telah menyiksa anjingku yang aku sayang yang sangat manja kepadaku.
Sampai menjelang malam Omi belum juga siuman, tubuhnya masih lemah dan terus mencoba menghirup oxygen sebanyak-banyaknya. Ia tidak bisa tanpa oxygen, saat selang oxygen dilepas lidahnya pucat membiru. Dokter menyarankan agar ia di rawat inap disana. Padahal aku masih ingin terus menemaninya, menunggunya hingga sadar agar bisa kubawa pulang bersamaku, tetapi dokter menyuruhku beristirahat dahulu. Akupun pulang bersama pacarku.
Takhenti-hentinya aku memikirkan Omi, sedang apa ia sekarang? Malam itu juga aq dan pacarku kembali lagi ke rumah sakit untuk menjenguknya. Dia masih belum sadarkan diri. Aku melihatnya berada di kandang biru masih dengan selang infuse dan oxygen yang menghiasi tubuhnya. Ingin sekali aku berada disana untuk menemaninya melewati malam, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Meskipun rumah sakit itu 24 jam, tetapi setiap malam dokter jaga, perawat dan orang-orang dalam rumah sakit itu bersiap-siap untuk tidur disana. Pacarku meyakinkanku agar mempercayakan Omi pada orang-orang disana.
Lirih kudengar erangannya saat aku keluar dari pintu. Akupun pulang dengan pikiranku yang kutinggal disana.
Selasa pagi aku kembali lagi kesana untuk mengetahui perkembangannya, aku dan pacarku berangkat pukul 8 pagi. Sampai disana aku bertanya pada front office “Mbak, aku mau njenguk anjing Omi”. Aku melihat perawat yang berada disampingku, dia membisikkan sesuatu kepada mbak yang ku ajak bicara dari jauh. Gerakan mulut yang tanpa suara, yang bisa kusimpulkan bahwa perawat itu mengatakan huruf m dan a dan t dan i, ya mati. Aku berusaha tak menghiraukan dan tetap optimis pada anjingku. Mbak itu menyuruhku menunggu sambil mencari orang yang berwenang untuk menunjukkan padaku dimana Omi berada. Di meja front office aku melihat tulisan “Tolong infuse untuk anjing Omi dipasang lagi” tanda tangan dokter Adi, dokter yang semalam menjaga Omi. Dari jauh aku melihat kandang biru yang sepertinya dipakai Omi semalam. Dokter Adi baru pulang untuk mandi, kemudian ia menelpon. Mengatakan bahwa Omi belum melewati masa kritis dan sekarang berada di ruang IGD. Ada secercah harapan yang mampu menepis bisikan perawat tadi.
Dengan berani aku dan pacarku masuk ke dalam ruang IGD diantar dengan mbak tadi. Aku mencari gantungan infuse dan kandang yang kulihat semalam ditiduri omi, tetapi fokus mataku tidak dapat terlepas dari gulungan koran diatas meja di ujung ruangan. Sambil terus mencari Omi aku penasaran ingi tahu ada apa didalam gulungan koran itu. Kuintip dari ujung koran, nampak kaki mungil dengan ekor putih. Pelan-pelan kubuka, kutemukan tubuh putih Omi membujur kaku, dingin kuraba perut dan telapak kakinya. Sepertinya ia dipanggil Tuhan taklama sebelum aku sampai disana. Hatiku bagai terhujam belati, menetes air mata tak mau berhenti. Kubelai pipinya yang kecil, kupanggil namanya, berharap ia bisa mendengarku dan menanggapi panggilanku. Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Berjalan ku keluar ruangan itu, kami duduk di kursi panjang. Tak lama dokter Adi tiba. Ia langsung duduk disebelahku, panjang lebar menjelaskan tentang apa yang terjadi. Aku hanya bisa menangkap sedikit, pacarkulah yang menanggapi obrolannya. Saat ia pulang tadi Omi masih bertahan di masa kritisnya, tak heran bila ia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Mengatakan bahwa ini yang terbaik buat Omi, karena kondisi Omi begitu sakit, sangat menyiksa bila ia tetap bertahan. Meski baik untuk Omi tetapi tidak untukku, aku kehilangan anjing yang sangat lucu dan pintar yang hanya aku miliki selama 3 minggu. Aku masih belum bisa merelakannya, tetapi egois tidaklah baik. Berulang kali aku masuk untuk melihat tubuh kaku itu lagi. Kuangkat badannya, dari mulutnya yang terbuka keluar cairan merah yang membasahi sebagian pipinya. Tubuh 2,3 Kg itu terasa sangat padat. Kemudian aku keluar untuk menyelesaikan administrasi dan membicarakan tentang pemakamannya. Kuputuskan untuk menguburnya di pemakaman yang disediakan rumah sakit. Kembali aku menemui tubuh Omi untuk mengucapkan salam perpisahan, menciumnya puas merabanya untuk terakhir kalinya sebelum dipakaikan kain kafan dan diletakkan ditempat peristirahatan terakhirnya.
Banyak pengalaman menyenangkan yang diberikan Omi padaku di waktunya yang singkat. Ia meninggalkan kita semua di usia 2 bulan 6 hari pukul 7 pagi tanggal 18 Mei kemarin. Lov u, Omi… semoga kau tenang di alam sana

Tidak ada komentar: